WANGSIT SURO (1)

Posted on : 24 August 2020

Nama Suro diciptakan oleh Kanjeng Sinuwun Sultan Agung Hadi Prabu Hanyakrakusuma yang memerintah Kerajaan Mataram pada tahun 1613 – 1645. Beliau adalah Sultan Mataram ke-4.

Pada waktu itu Sultan Hanyakrakusuma ingin mengubah kalender Saka yaitu kalender Jawa dan Hindu supaya sepadan dengan penanggalan Islam. Tujuan yang lain, Sultan ingin menyatukan dua kubu masyarakat Jawa yang terpecah akibat berbeda keyakinan yaitu penganut Kejawen atau abangan dan putihan atau Muslim.

Dalam masyarakat Jawa, sasi Suro identik dengan suasana sakral dan mistis. Ada yang mempercayai pada sasi Suro akan ada banyak bencana dan kematian. Ada juga yang meyakini Suro ini sebagai bulannya para makhluk gaib. Mengapa muncul kepercayaan dan keyakinan semacam ini?
Malam 1 suro dipercaya sebagai datangnya Aji Saka ke Pulau Jawa untuk membebaskan rakyat dari cengkeraman makhluk gaib. Inilah yang menyebabkan berbagai kisah mistis seputar suro bermunculan.

Pada malam 1 Suro, masyarakat Kesultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, dan Kasepuhan Cirebon melakukan ritual rutin yaitu:
1. Siraman malam 1 suro
Siraman ini dilakukan menggunakan air dicampur kembang setaman yang bertujuan untuk menyucikan raga sebagai awal dimulainya tirakat sepanjang bulan Suro. Tirakat ini bertujuan menyucikan hati, pikiran, dan menjaga panca indera dari hal-hal negatif.
2. Tapa Mbisu
Tapa mbisu ini dilakukan dengan cara berjalan kaki mengelilingi tembok beteng Kraton pada malam 1 suro. Tujuan dari tapa mbisu ini supaya kita bisa mengontrol ucapan agar mengucapkan hal-hal yang baik saja. Dalam bulan Suro dipercaya doa-doa lebih mudah terkabul. Ucapan adalah doa. Jadi harus benar-benar bisa menjaga ucapan supaya yang baiklah yang akan dikabulkan. Jangan sampai ucapan buruk atau umpatan jelek mencelakai orang lain dan diri kita sendiri.
Pada zaman dahulu ritual ini dilakukan oleh abdi dalem atau prajurit kraton saja. Namun dalam perkembangannya, ritual ini dapat diikuti oleh masyarakat umum.
3. Menyiapkan sesaji bunga
Sesaji bunga ini bertujuan untuk menghormati para leluhur. Bunga yang dipersiapkan bermacam-macam dengan perlambangnya masing-masing yaitu mawar merah, mawar putih, kanthil, melati, dan kenanga. Bunga-bunga ini juga ditaburkan ke pusara/makam leluhur di bulan suro. Ziarah makam ini bertujuan supaya kita selalu mengingat jasa dan mendoakan para leluhur.
4. Jamasan pusaka
Jamasan pusaka atau memandikan/membersihkan pusaka Kraton dilakukan satu kali dalam bulan suro yaitu hari Selasa Kliwon. Apabila pada bulan suro tidak terdapat selasa kliwon, maka pelaksanaan jamasan pusaka diganti hari jumat kliwon. Selasa kliwon dianggap sebagai hari baik karena pada selasa kliwon merupakan hari turunnya wahyu kraton.
Jamasan pusaka merupakan upacara sakral.
Persiapan yang dilakukan tidak hanya fisik namun juga persiapan rohani. Sebelum bertugas, para abdi dalem wajib berpuasa dan mandi terlebih dahulu. Mereka juga harus menjaga tutur kata dan sikap perbuatan selama upacara jamasan.
5. Larung sesaji
Larung sesaji dimaknai sebagai ritual sedekah alam. Ragam bahan ritual atau biasa disebut uba rampe disajikan ke laut, gunung, atau ke tempat lain yang dikeramatkan. Ritual larung sesaji merupakan simbol kesadaran makro kosmos yang bersifat horizontal yaitu penghargaan manusia terhadap alam. Selain itu juga sebagai bentuk interaksi yang harmonis antara manusia yang tinggal di jagat fisik dengan alam gaib atau metafisik. Kedua dimensi ini saling bertetangga.

Leave a Reply